Tidak Lagi Terluka, Tapi Juga Belum Pulih
Suatu hari, ada seorang pemuda berusia awal dua puluhan yang merasa bangga akhirnya menjadi bagian dari sebuah komunitas kecil. Sejak lama ia tidak pernah benar-benar merasa diterima di lingkungan mana pun. Karena itu, ketika komunitas tersebut memberinya ruang, ia menggantungkan banyak harapan di sana. Ia berusaha tampil baik-baik saja, ramah, dan menyenangkan, meski di dalam dirinya ada banyak luka yang tidak pernah ia ceritakan. Namun waktu berjalan, dan dinamika sosial tidak selalu berpihak. Di dalam komunitas itu, pemuda tersebut menyimpan ketertarikan pada seorang pemudi yang juga menjadi anggota. Ia sempat menyatakan perasaannya, meskipun mengetahui bahwa pemudi itu telah memiliki kekasih. Penolakan pun terjadi, disertai ketidaknyamanan yang perlahan tumbuh di antara mereka. Setelah kejadian itu, pemuda tersebut sering mengekspresikan perasaannya lewat status WhatsApp dan unggahan Instagram. Unggahan-unggahan itu tidak menyebut nama siapa pun, tetapi bernuansa sedih, kecewa, dan...