Muak
Saya tidak mengerti apa yang membuat saya tergerak menulis lagi kali ini. Mungkin, sebuah rasa bosan yang sangat besar, atau keinginan mendapatkan kontrol dan lari dari realita?
Baru saja saya kehilangan pekerjaan pertama saya karena memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrak. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Satu tahun bagi saya belum cukup untuk belajar hal-hal baru di tempat itu, namun bekerja bersama rekan yang bossy dan agak membuli membuat saya muak. Saya muak. Pada akhirnya, saya keluar selagi ada kesempatan.
Kini sudah bosan, padahal baru seminggu tidak berkantor lagi. Mulai membangun bisnis bersama teman yang saya tahu itu cuman pelarian. Menamatkan film dan game yang itu-itu saja. Saya benar-benar bosan. Ingin sekali belajar hal baru di dunia ini dan melakukan banyak hal menyenangkan--saya harap saya bisa--. Namun kenyataannya saya selalu berlari, tidak pernah berhenti dari sesuatu yang entah apa sepertinya mengejar saya. Mau mati rasanya.
Semua ini memuakkan. Kemampuan belajar saya tidak secanggih dulu. Rasa penasaran saya tidak sebesar itu lagi. Energi saya juga terbatas dan seperti sudah dikuras habis. Terkadang, saya menyalahkan keadaan: jadi, ini yang pada akhirnya saya dapatkan setelah mati-matian membela bumi?
Mereka bicara soal keterbukaan namun tetap memelihara satu staf yang merusak segalanya. Ya, mulutnya seperti sampah, cara ia mengetik seperti bangkai yang berbau busuk, dan sifatnya seperti anjing, benar-benar penjilat.
Saya sangat membenci dia. Andai kita tidak pernah bertemu, saya tidak akan merasakan sakit yang seperti ini. Berbulan-bulan saya disalahkan atas kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan. Ia seperti singa lapar yang siap menerkam mangsanya jika lengah. Keberadaan saya tidak dianggap dan saya tidak berguna. Padahal saya juga berjuang keras, saya juga belajar untuk adaptasi dan membaur. Selalu mencapai target dan menyelesaikan tugas harian. Tapi sekalinya saya tidak disukai, artinya dibenci mereka seumur hidup.
Sesaat saya lega bisa keluar dari gerombolan serigala itu. Namun saya sekarang seperti domba yang kehilangan gembalanya. Saya harus bagaimana? Berusaha? Ya, saya harap saya bisa semangat seperti manusia normal juga. Namun saya selalu merasa tidak ada yang benar-benar mencintai saya. Saya sangat merepotkan. Saya takut miskin. Saya takut gagal. Saya takut ditolak lagi dan lagi. Rasanya semua memuakkan.
Komentar
Posting Komentar