insight dari papa, untuk aku yang belum stabil kala itu

"kendalikan suasana hatimu, karena perasaan mengontrol ribuan pikiran." - unknown.

pernahkah kamu berpikir bahwa semua orang adalah musuhmu? dunia warnanya berubah menjadi menjadi abu-abu. rasa sakit yang begitu dalam terkubur naik ke permukaan dan membawa kamu ke mode bertahan hidup paling serius dalam waktu sekejap.

jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. ya, ayat ini saya kutip dari amsal 4:23.

malam ini saya sangat panas hati. banyak tekanan kehidupan--pusing soal cita-cita masa depan, pasangan hidup, finansial--, ditambah lagi sosial media yang menjadi sarana ujaran kebencian banyak orang yang membuat semakin pusing. 

belakangan ini saya perhatikan postingan-postingan anak remaja yang belum stabil emosinya. ia tidak mengerti duduk masalah persoalan yang dialami para orang tua. postingan-postingan ujaran kekecewaan karena merasa tidak dibela, yang rasanya postingan itu diarahkan ke ayah saya, membuat saya juga naik pitam membacanya. sebagai anak laki-laki pertama, tentu, saya tidak terima diperlakukan seperti ini! ayah saya seperti tidak dihargai. namun, apa yang ayah saya katakan? katanya, belajar untuk tenang dan menata pikiran satu persatu. katanya, ia tidak sakit hati dikatakan bagaimana pun di sosial media. "terserah mereka, saya tidak ingin orang yang terluka semakin terluka lagi nantinya."

setelah doa malam bersama keluarga, saya yang panas itu meledak-ledak. saya kecewa dengan banyak hal, bahkan, adik saya jadi pelampiasan perkataan cukup tajam perihal dirinya yang terlambat menjemur sprei cucian kakaknya karena kakaknya harus keluar sebentar, cari angin, hahaha--saya sudah minta maaf, dan katanya dia juga cuek, karena baik dia dan saya punya kesalahan sendiri, dan watak masing-masing yang berbeda--. ayah saya melerai. menegur sejenak. saya malah tambah meledak tapi kali ini saya beri alasan yang sebenarnya mengapa saya marah. setelah tenang, ayah saya membawa percakapan ke arah 'deep talk', dan rasanya, itu seperti air yang menyejukkan bagi hati saya. saya tenang, dan saya mengerti banyak hal baru.

satu hal yang beliau katakan adalah, kita tidak perlu masuk ke dalam pola pikir orang yang tidak stabil kondisi jiwanya. mereka sedang terluka. orang yang terluka tidak akan menangkap makna dibalik pesan. apapun respon kita terhadap mereka, bisa jadi melukai hati mereka semakin dalam.--saya yang belajar ilmu komunikasi juga akhirnya mengingat bahwa makna pesan bisa terdistorsi karena ada faktor gangguan--.

padahal, saya tahu persis beliau bukan orang sesabar itu.--dulu saya dan ayah juga sering adu mulut yang ujung-ujungnya saya nangessss karena waduh pedasnya itu luar biasa, hahaha. setelah itu baru deh minta maaf. beliau ini selalu minta maaf duluan ke saya padahal emang saya ini yang nantang blio adu mulut duluan ya, hahahah, ini saya ketik sambil ketawa, mengingat kejadian masa lalu lucu juga ya ternyata--.

tetapi akhir-akhir ini ayah saya rasanya menjadi lebih sabar, lebih lembut, namun tetap tegas. bagi saya ia adalah sosok ayah yang luar biasa. segala sesuatu dipertimbangkan. segala sesuatu dipikirkan lebih matang. saya tahu, banyak sekali masalah silih berganti, belum lagi masalah orang-orang yang konsultasi dengan beliau ini terlalu banyak. beliau ini tetap tenang, menata pikirannya, menata hatinya, dan yang terpenting adalah bergantung kepada Tuhan.

saya yang masih muda dan terkadang tidak stabil juga emosinya belajar banyak hal. bahwa hati benar-benar harus dijaga. katanya, perasaan mengendalikan ribuan pikiran. kalau suasana hati sudah jelek, pikiran yang datang pasti jelek. yang baik jadi tidak kelihatan. 

masih banyak hal lain yang ayah berikan dalam 'deep talk' itu untuk saya seperti pengalaman pribadi beliau dalam menata emosi dan pikiran, pengalaman ketika masih muda, saran rencana masa depan, tips memilih pasangan hidup, dan wejangan-wejangan soal people yang 'come and go' lainnya, bahkan, juga bagaimana supaya kita berdamai dari trauma masa lalu.

semua itu tidak saya tulis dalam postingan ini, mungkin di kesempatan berikutnya akan saya tulis. just keep it for my self dulu, hahaha. sampai jumpa!

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." - Matius 5:44 (TB) 




to be continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Lagi Terluka, Tapi Juga Belum Pulih

Muak

puisi orang gila