To Be Healed Is to Let Go
Kono kanji wa
fushigi desu. Shikashi wakatta. Tsuyoku naru tame ni ganbarimasu. Atarashii
jinsei ga mada aru. Shiawase na jinsei mo aru. Susunde ike.
(Perasaan ini aneh, tapi aku mulai mengerti. Aku akan berusaha menjadi lebih kuat. Masih ada hidup baru, dan ada juga hidup yang bahagia. Terus maju.) – rikusannn
Setelah sekian
lama, saya kembali memutuskan membaca Alkitab—itu juga awalnya karena
mengikuti event doa puasa—. Tetapi ketika menyiapkan hati dengan baik,
benih itu ternyata bisa tumbuh di tanah yang subur. Hari ini, firman-Nya
mengajarkan saya tentang mengampuni.
……dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami
juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami - Matius 6:12 (TB)
Sontak saya termenung saat membaca kutipan ayat yang sangat
terkenal dan sudah sering saya baca ini. Kali ini rasanya seperti baru pertama
kali membaca dan tersadar bahwa ada hal yang belum selesai dalam diri saya dan
harus saya lepaskan.
Saya tahu benar, jauh di lubuk hati, saya pernah sangat mengasihi
mantan sahabat dan mantan rekan kerja saya dalam konteks pertemanan. Namun
semua itu berubah menjadi benci karena mereka memperlakukan saya dengan buruk. Mungkin terdengar valid dan sederhana. Kasih
yang besar perlahan berubah menjadi benci yang besar pula. Kini kebencian itu
menguasai saya dan saya tidak mampu untuk melangkah maju.
Sudah berulang
kali saya menjalani masa pemulihan bersama psikiater dan psikolog. Saya pikir saya
benar dan selalu benar, karena saya ’melihat dunia’ dari sisi lain. Karena saya
didukung oleh orang-orang profesional. Karena saya didukung oleh orang-orang
terkasih di lingkungan saya. Saya pikir saya sudah paling bijak sehingga berhak
menghakimi ciptaan-Nya yang lain. Ternyata, saya tidak sepenuhnya benar.
Meskipun batasan
tegas harus dibuat dan saya memutuskan rekonsiliasi tidak akan terjadi, saya tersadar
bahwa mengampuni adalah keharusan. Mengampuni adalah jawaban. Mengampuni adalah melepaskan. Meskipun sulit, tidak
ada yang memaksa saya untuk terburu-buru. Mungkin sesi terapi dimaksudkan untuk
ini. Menemukan jawaban sendiri dan memampukan saya untuk kembali memiliki hidup
yang mandiri, berdaya, dan berkontribusi kembali kepada masyarakat.
Dua bulan ini
saya memang beberapa kali aktif terlibat di kegiatan komunitas, tetapi lebih
banyak di rumah dan mengurung diri di kamar. Saya takut bekerja lagi, saya
takut disalahpahami lagi, saya cemas ketika harus bersosialisasi dengan orang
lain lagi. Di titik ini, hari ini, akhirnya saya sadar: Saya lelah membenci. Saya
merasa saya tercipta untuk mencintai, dan bukan membenci. Rasa sakit ini mungkin
seperti tanaman liar yang tumbuh di taman sehingga harus saya bersihkan setiap
hari untuk menjaga taman itu tetap indah.
Jadi, akankah suatu hari taman ini semakin indah, banyak bunga
dan pepohonan lebat yang menghasilkan buah? Akankah suatu hari praktik spiritualitas
yang yang saya lakukan mampu menuntun saya menuju pencarian makna dan kesejahteraan
hidup? Akankah saya konsisten mengampuni walaupun penuh luka? *CA
Komentar
Posting Komentar