Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Menunggu Makan Siang

Pagi ini saya dijanjikan makan siang bersama untuk pembubaran panitia pukul 1 siang. Sekarang pukul 1 siang, dan belum ada orang yang siap. Menunggu lagi, menunggu lagi.  Untungnya, saya sudah 'alas perut' alias makan di rumah dulu. Supaya kalau menunggu begini tidak emosi.  Cuaca sedang panas-panasnya. Saya dan papa menunggu di ruangan gembala dengan AC. Sampai nanti tiba saatnya makan siang, kami akan beranjak dari gereja ke tempat makan. 

Antre

Karena saya jadwal kontrol bulanan dan obat saya banyak, maka saya harus menunggu dengan sangat lama di bagian farmasi.  Tidak masalah menunggu, saya hanya merasa bosan. Tulisan ini diketik saat mengantre dan sudah hampir dua jam saya duduk manis sembari memainkan permainan favorit saya, MOBA kompetitif 5 vs 5 (lebih seperti 1 vs 9 karena tim tidak rasional sama sekali, sangat anomali). Waktu berjalan sangat lambat kali ini dan saya lapar. Tapi saya tidak nafsu makan. Habis ini, saya ke mana, ya. Bosan pengen jalan-jalan tetapi enggan menghabiskan duit.  Menit demi menit berlalu. Sekarang pengen makan ayam geprek tetapi tenggorokan saya masih sakit jika menelan makanan. Belum lagi pilek dan batuk yang tak kunjung sembuh.  Oh iya, di konsul kali ini aku dapat tawaran project pelayanan masyarakat bersama psikolog aku. Doakan sukses, ya.  Sekarang sudah selesai mengantre dan sudah di rumah, akhirnya, bisa istirahat.

Keluhan

Pokoknya semua gara-gara dia. Perusak ekosistem kerja. Aku berhenti kerja di tempat yang aku sukai hanya karena aku membenci penindasan. Terlalu ideal di tempat kerja juga lama-lama membunuhmu. 

Lagi Sakit

Sudah seminggu sakit demam, meriang, batuk, dan pilek. Sudah minum obat tak kunjung sembuh. Namun, saya jadi lebih banyak waktu istirahat. Sampai-sampai saya bosan istirahat. Maunya kerja. Pikiran saya ke mana-mana. Saat wawancara LPDP batch 2 2025 kemarin, saya demam. Habis wawancara tambah demam dan overthinking. Ada-ada saja pikiran orang sakit.

puisi anak manja

Menangis seperti anak kecil. Sering marah dan mengasihani diri. Tukang mengeluh. Pemalas. Tidak mau berkembang. Takut perubahan. Ketakutan. Panik. Dada terasa panas. Ingin menerima tanpa memberi. Sifat buruk. Sifat buruk. Sifat buruk. Aku takut. Tidak mau menerima diri. Ekspetasi tidak bisa diturunkan. Kenyataan membuat muak. Kurang bersyukur. Letih. Haus. Ingin dicintai sepenuhnya. Terlalu terluka. Menutup diri. Tak ada yang akan paham. Tak beriman. Kurang berdoa. Terlalu abstrak. Harus mulai dari mana. Tidak ada fokus. Tidak ada tujuan. Ingin hidup tetapi sekarang rasanya seperti sedang mati. Kabur dari kenyataan. 

draft 11/10/25

Dunia memaksa saya untuk belajar setiap hari. Bertahan hidup selagi masih diberi nafas kehidupan. Jika kematian itu datang, apakah yang akan dirasakan? Sebuah kebahagiaan ataukah permohonan agar diberi waktu lebih lama lagi untuk hidup, melihat, dan merasakan, hingga pada akhirnya menikmati. Apa itu kematian? ke mana kita pergi setelah mati? Argh- Pikiran saya kacau. Diksi saya berantakan. Apa yang harus saya lakukan ketika bosan? Membaca buku atau apa? Lagi-lagi semua ini rasanya seperti terpaksa. Hanya dalam menulis saya bisa merasakan kebebasan. Tentunya bukan tulisan ilmiah yang saya maksud. Logika saya melompat-lompat, tulisan ini pun nampaknya tidak jelas, terlalu abstrak, sulit dimengerti.

Muak

Saya tidak mengerti apa yang membuat saya tergerak menulis lagi kali ini. Mungkin, sebuah rasa bosan yang sangat besar, atau keinginan mendapatkan kontrol dan lari dari realita? Baru saja saya kehilangan pekerjaan pertama saya karena memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrak. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Satu tahun bagi saya belum cukup untuk belajar hal-hal baru di tempat itu, namun bekerja bersama rekan yang bossy dan agak membuli membuat saya muak. Saya muak. Pada akhirnya, saya keluar selagi ada kesempatan. Kini sudah bosan, padahal baru seminggu tidak berkantor lagi. Mulai membangun bisnis bersama teman yang saya tahu itu cuman pelarian. Menamatkan film dan game yang itu-itu saja. Saya benar-benar bosan. Ingin sekali belajar hal baru di dunia ini dan melakukan banyak hal menyenangkan--saya harap saya bisa--. Namun kenyataannya saya selalu berlari, tidak pernah berhenti dari sesuatu yang entah apa sepertinya mengejar saya. Mau mati rasanya. Semu...