Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Tidak Lagi Terluka, Tapi Juga Belum Pulih

Suatu hari, ada seorang pemuda berusia awal dua puluhan yang merasa bangga akhirnya menjadi bagian dari sebuah komunitas kecil. Sejak lama ia tidak pernah benar-benar merasa diterima di lingkungan mana pun. Karena itu, ketika komunitas tersebut memberinya ruang, ia menggantungkan banyak harapan di sana. Ia berusaha tampil baik-baik saja, ramah, dan menyenangkan, meski di dalam dirinya ada banyak luka yang tidak pernah ia ceritakan. Namun waktu berjalan, dan dinamika sosial tidak selalu berpihak. Di dalam komunitas itu, pemuda tersebut menyimpan ketertarikan pada seorang pemudi yang juga menjadi anggota. Ia sempat menyatakan perasaannya, meskipun mengetahui bahwa pemudi itu telah memiliki kekasih. Penolakan pun terjadi, disertai ketidaknyamanan yang perlahan tumbuh di antara mereka. Setelah kejadian itu, pemuda tersebut sering mengekspresikan perasaannya lewat status WhatsApp dan unggahan Instagram. Unggahan-unggahan itu tidak menyebut nama siapa pun, tetapi bernuansa sedih, kecewa, dan...

Bukannya tidak bisa, tapi tidak mau

Loker ada, waktu ada, niatnya yang tidak ada. Begitulah yang saya pikirkan ketika melihat lowongan pekerjaan pagi ini. Sebenarnya, saya ini maunya apa? Hanya mau duit tanpa kerja? Atau hanya mau pekerjaan yang benar-benar saya nikmati terserah berapa duitnya? Kata dokter semua hal baik, sebaiknya dibiasakan dan diusahakan. Tapi saya takut. Tapi saya peragu. Tapi saya, tapi, tapi, tapi.... Saya tidak benar-benar mengenal tujuan hidup saya.

Bangun Pagi = Mood Bagus!

Hari ini saya mengawali hari dengan bangun pagi. Jalan santai, jajan, produktif menghasilkan konten, ke pasar, memasak, membaca buku, bahkan bisa mandi dan tidur siang. Ternyata, ada hari semenyenangkan ini. Kalau dikasih rate sih, 10/10. Asik sekali!

To Be Healed Is to Let Go

Kono kanji wa fushigi desu. Shikashi wakatta. Tsuyoku naru tame ni ganbarimasu. Atarashii jinsei ga mada aru. Shiawase na jinsei mo aru. Susunde ike. (Perasaan ini aneh, tapi aku mulai mengerti. Aku akan berusaha menjadi lebih kuat. Masih ada hidup baru, dan ada juga hidup yang bahagia. Terus maju.) – rikusannn Setelah sekian lama, saya kembali memutuskan membaca Alkitab —itu juga awalnya karena mengikuti event doa puasa— . Tetapi ketika menyiapkan hati dengan baik, benih itu ternyata bisa tumbuh di tanah yang subur. Hari ini, firman-Nya mengajarkan saya tentang mengampuni.  ……dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami - Matius 6:12 (TB) Sontak saya termenung saat membaca kutipan ayat yang sangat terkenal dan sudah sering saya baca ini. Kali ini rasanya seperti baru pertama kali membaca dan tersadar bahwa ada hal yang belum selesai dalam diri saya dan harus saya lepaskan. Saya tahu benar, jauh di lubuk hati, saya pernah sa...

Trigger

Beberapa hari yang lalu, laptop saya mengalami error di bagian network, di mana logo Wi-Fi saya hilang. Sudah saya coba semua cara di YouTube namun tidak ada yang berhasil. Akhirnya, saya membeli USB Wi-Fi adaptor. Setelah saya membelinya, eh, belum terpakai USB itu, laptop saya sudah kembali normal. Memang aneh, tapi buang-buang duit. Satu hal yang saya pelajari adalah terkadang sesuatu itu butuh trigger untuk kembali berfungsi normal. Seperti USB yang mentrigger driver Wi-Fi asli, manusia pun sama. Saya bukan malas, saya hanya butuh dorongan yang membuat saya kembali melesat seperti anak panah yang kian menjulang ke langit. Ya, masa-masa muda seharusnya tidak disia-siakan dengan menghukum diri sendiri di kamar, menjadi seorang NEET. Apa yang harus dilakukan ketika merasa tidak berguna? Ingatlah hal ini: Kamu berharga, kamu punya mimpi, kamu punya tujuan. Mari, perhatikanlah hidupmu dengan seksama sehingga kamu tahu menghitung hari-harimu dan memperoleh hati yang bijaksana.

Snooze (Ingin Produktif)

Saya ingin produktif namun tidak tahu bagaimana caranya. Seperti terjebak di 'lingkaran setan'. Rutinitas ini sudah agak membosankan. Makan, game, web series, tidur, makan lagi, dst. Manusia diciptakan untuk produktif, menghasilkan 'buah'. Artinya bekerja adalah suatu keharusan untuk melepaskan energi yang tertumpuk. Jujur, saya ingin belajar bahasa Jepang karena itu membuat saya senang. Saya juga ingin membuat lagu sendiri sebagai suatu karya seni yang menyenangkan. Tetapi tujuan jangka panjangnya tidak ada. Hanya mencari kesenangan, lalu ketika mengalami kesulitan saya pasti akan lari. Saya butuh komitmen dan konsistensi. Menulis blog ini hanya salah satu cara saya melepas penat. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Berapa lama proses pemulihan saya berlangsung? Mengapa saya merasa hidup hambar dan hampa? Menjalani hidup sehat seperti olahraga saja saya masih enggan. Entah kapan saya siap. Tidak ada yang tahu. Tetapi kesakitan ini, seperti alarm yang membuat saya ...

Fiksi

Kehidupan di dunia nyata bukan seperti di film-film. Kehidupan sekolah, persahabatan, dan relasi antar manusia tidak sama seperti di film-film. Di film nampak indah dan adil, saling mengerti dan menghargai, tapi di kehidupan nyata tidak sesimpel itu.  Kehidupan sekolah saya sudah berakhir dan sekarang menjalani kehidupan yang sebenarnya. Begitu sulit rasanya. Saya selalu bermimpi punya sahabat di sekolah. Tapi semua itu sudah lewat. Apa yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah berkhayal soal kehidupan sekolah yang ideal seperti di film-film. Kenyataannya, saya pribadi yang tertutup dan tidak mudah bergaul. Tidak ada satupun yang saya izinkan mengubah dunia saya.  Saya memang keras kepala dan pemalu. Mungkin menerima dan memahami hal ini bisa membuat saya lebih tenang. Bahwa kehidupan nyata harus diperjuangkan dengan keras. Bertindak secukupnya namun tetap melakukan yang terbaik yang saya bisa. Dunia nyata bukan dunia fiksi. Pahami dan terimalah. 

Pertanyaan

Kenapa saya jadi orang yang mudah sakit-sakitan? Kenapa saya tidak bisa buat musik? Kenapa saya merasa tidak berbakat? Apa yang membuat saya menjadi pribadi yang tidak bahagia? Kenapa saya punya ekspetasi tinggi terhadap diri sendiri? Kenapa saya tidak punya teman yang benar-benar mendukung saya? Kenapa saya tidak bisa bergaul karib dengan manusia di bumi ini?

Menunggu Makan Siang

Pagi ini saya dijanjikan makan siang bersama untuk pembubaran panitia pukul 1 siang. Sekarang pukul 1 siang, dan belum ada orang yang siap. Menunggu lagi, menunggu lagi.  Untungnya, saya sudah 'alas perut' alias makan di rumah dulu. Supaya kalau menunggu begini tidak emosi.  Cuaca sedang panas-panasnya. Saya dan papa menunggu di ruangan gembala dengan AC. Sampai nanti tiba saatnya makan siang, kami akan beranjak dari gereja ke tempat makan. 

Antre

Karena saya jadwal kontrol bulanan dan obat saya banyak, maka saya harus menunggu dengan sangat lama di bagian farmasi.  Tidak masalah menunggu, saya hanya merasa bosan. Tulisan ini diketik saat mengantre dan sudah hampir dua jam saya duduk manis sembari memainkan permainan favorit saya, MOBA kompetitif 5 vs 5 (lebih seperti 1 vs 9 karena tim tidak rasional sama sekali, sangat anomali). Waktu berjalan sangat lambat kali ini dan saya lapar. Tapi saya tidak nafsu makan. Habis ini, saya ke mana, ya. Bosan pengen jalan-jalan tetapi enggan menghabiskan duit.  Menit demi menit berlalu. Sekarang pengen makan ayam geprek tetapi tenggorokan saya masih sakit jika menelan makanan. Belum lagi pilek dan batuk yang tak kunjung sembuh.  Oh iya, di konsul kali ini aku dapat tawaran project pelayanan masyarakat bersama psikolog aku. Doakan sukses, ya.  Sekarang sudah selesai mengantre dan sudah di rumah, akhirnya, bisa istirahat.

Keluhan

Pokoknya semua gara-gara dia. Perusak ekosistem kerja. Aku berhenti kerja di tempat yang aku sukai hanya karena aku membenci penindasan. Terlalu ideal di tempat kerja juga lama-lama membunuhmu. 

Lagi Sakit

Sudah seminggu sakit demam, meriang, batuk, dan pilek. Sudah minum obat tak kunjung sembuh. Namun, saya jadi lebih banyak waktu istirahat. Sampai-sampai saya bosan istirahat. Maunya kerja. Pikiran saya ke mana-mana. Saat wawancara LPDP batch 2 2025 kemarin, saya demam. Habis wawancara tambah demam dan overthinking. Ada-ada saja pikiran orang sakit.

puisi anak manja

Menangis seperti anak kecil. Sering marah dan mengasihani diri. Tukang mengeluh. Pemalas. Tidak mau berkembang. Takut perubahan. Ketakutan. Panik. Dada terasa panas. Ingin menerima tanpa memberi. Sifat buruk. Sifat buruk. Sifat buruk. Aku takut. Tidak mau menerima diri. Ekspetasi tidak bisa diturunkan. Kenyataan membuat muak. Kurang bersyukur. Letih. Haus. Ingin dicintai sepenuhnya. Terlalu terluka. Menutup diri. Tak ada yang akan paham. Tak beriman. Kurang berdoa. Terlalu abstrak. Harus mulai dari mana. Tidak ada fokus. Tidak ada tujuan. Ingin hidup tetapi sekarang rasanya seperti sedang mati. Kabur dari kenyataan. 

draft 11/10/25

Dunia memaksa saya untuk belajar setiap hari. Bertahan hidup selagi masih diberi nafas kehidupan. Jika kematian itu datang, apakah yang akan dirasakan? Sebuah kebahagiaan ataukah permohonan agar diberi waktu lebih lama lagi untuk hidup, melihat, dan merasakan, hingga pada akhirnya menikmati. Apa itu kematian? ke mana kita pergi setelah mati? Argh- Pikiran saya kacau. Diksi saya berantakan. Apa yang harus saya lakukan ketika bosan? Membaca buku atau apa? Lagi-lagi semua ini rasanya seperti terpaksa. Hanya dalam menulis saya bisa merasakan kebebasan. Tentunya bukan tulisan ilmiah yang saya maksud. Logika saya melompat-lompat, tulisan ini pun nampaknya tidak jelas, terlalu abstrak, sulit dimengerti.

Muak

Saya tidak mengerti apa yang membuat saya tergerak menulis lagi kali ini. Mungkin, sebuah rasa bosan yang sangat besar, atau keinginan mendapatkan kontrol dan lari dari realita? Baru saja saya kehilangan pekerjaan pertama saya karena memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrak. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Satu tahun bagi saya belum cukup untuk belajar hal-hal baru di tempat itu, namun bekerja bersama rekan yang bossy dan agak membuli membuat saya muak. Saya muak. Pada akhirnya, saya keluar selagi ada kesempatan. Kini sudah bosan, padahal baru seminggu tidak berkantor lagi. Mulai membangun bisnis bersama teman yang saya tahu itu cuman pelarian. Menamatkan film dan game yang itu-itu saja. Saya benar-benar bosan. Ingin sekali belajar hal baru di dunia ini dan melakukan banyak hal menyenangkan--saya harap saya bisa--. Namun kenyataannya saya selalu berlari, tidak pernah berhenti dari sesuatu yang entah apa sepertinya mengejar saya. Mau mati rasanya. Semu...